glitter

Senin, 09 Januari 2012

Bimbingan dan Konseling


 Bimbingan
1.      Pengertian Bimbingan
Banyak definisi bimbingan yang dikemukakan oleh para ahli, namun pada intinya bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada individu agar dapat mencapai perkembangan secara optimal.
2.      Tujuan Bimbingan
Tujuan pemberian layanan bimbingan adalah agar individu dapat (1) merencanakan kegiatan dalam menyelesaikan studi, perkembangan karier dan kehidupannya di masa datang; (2) mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin; (3) menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, serta lingkungan kerjanya; (4) mengatasi hambatan serta kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, ataupun lingkungan kerja.
3.      Fungsi Bimbingan
Ada beberapa fungsi bimbingan yang dikemukakan oleh Aquino dan Alviar (Setiawati dan Chudari, 2005:20) yaitu pencegahan (preventif), perbaikan (kuratif), pengembangan (development), dan pemahaman (informatif).
Penjabaran keempat fungsi tersebut:
a.       Fungsi pemahaman, yaitu fungsi bimbingan yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak tertentu sesuai dengan kepentingan perkembangan murid.
b.      Fungsi preventif, yaitu bantuan yang diberikan untuk meminimalisasi berbagai masalah yang dapat emnghambat perkembangannya.
c.       Fungsi pengembangan, yaitu bantuan yang diberikan untuk mengembangkan potensi yang ada di dirinya.
d.      Fungsi perbaikan, yaitu bantuan yang diberikan agar siswa-siswa dapat mengatasi masalah yang dihadapi oleh dirinya.
Adapun fungsi bimbingan yang saya temukan di sumber buku lain yaitu fungsi advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang mendapat perhatian.
4.      Pendekatan Dalam Bimbingan
Adapun empat pendekatan dapat dirumuskan sebagai pendekatan dalam bimbingan, yaitu pendekatan (a) krisis, (b)remedial, (c) preventif, (d) perkembangan.
Dalam pendekatan krisis, pembimbing menunggu munculnya suatu krisis dan dia bertindak membantu seseorang yang menghadapi krisis itu. Contoh : Seorang anak datang mengadu kepada guru sambil menangis karena didorong temannya sehingga tersungkur ke lantai. Pembimbing yang menggunakan pendekatan krisis akan meminta anak itu membicarakan penyelesaian masalahnya dengan teman yang mendorong dia ke lantai. Bahkan mungkin pembimbing atau guru tersebut memanggil teman anak itu untuk datang ke kantornya untuk membicarakan penyelesaian masalah itu.
Di dalam pendekatan remedial, guru akan memfokuskan bantuannya kepada upaya menyembuhkan atau memperbaiki kelemahan-kelemahan yang tampak. Tujuan bantuan dari pendekatan ini ialah menghindarkan terjadinya krisis yang mungkin terjadi. Berbagai strategi bisa digunakan, seperti mengajarkan kepada siswa keterampilan tertentu seperti keterampilan belajar (membaca, merangkum, menyimak, dll) , keterampilan sosial dan sejenisnya yang belum dimiliki siswa sebelumnya. Dalam contoh kasus di atas, dengan menggunakan pendekatan remedial, guru dapat mengambil tindakan mengajarkan keterampilan berdamai sehingga siswa tadi memiliki keterampilan untuk mengatasi masalah-masalah hubungan antarpribadi. Keterampilan berdamai adalah keterampilan yang selama ini belum dimiliki kedua siswa tersebut dan merupakan kelemahan yang bisa memunculkan krisis itu.
Pendekatan preventif mencoba mengantisipasi masalah-masalah generik dan mencegah terjadinya masalah itu. Masalah-masalah yang dimaksud seperti putus sekolah, berkelahi, kenakalan, merokok dan sejenisnya yang secara potensial masalah itu dapat terjadi pada siswa secara umum. Model preventif ini, didasarkan kepada pemikiran bahwa jika guru atau pembimbing dapat mendidik siswa untuk menyadari bahaya dari berbagai kegiatan dan menguasai metode untuk menghindari terjadinya masalah itu, maka pembimbing akan dapat mencegah siswa dari perbuatan-perbuatan yang membahayakan tersebut. Berbagai teknik dapat digunakan dalam pendekatan ini termasuk mengajar dan memberikan informasi. Dalam contoh kasus di atas, jika guru menggunakan pendekatan preventif dia akan mengajari siswa untuk bersikap toleran dan memahami orang lain sehingga dapat mencegah munculnya perilaku agresif, tanpa menunggu munculnya krisis terlebih dahulu.
Pendekatan perkembangan merupakan pendekatan yang lebih mutakhir dan lebih proaktif dibandingkan dengan ketiga pendekatan sebelumnya. Pembimbingan yang menggunakan pendekatan ini beranjak dari pemahaman tentang keterampilan dan pengalaman khusus yang dibutuhkan siswa untuk mencapai keberhasilan di sekolah dan di dalam kehidupan.
Visi bimbingan perkembangan bersifat edukatif, pengembangan dan outreach. Edukatif karena titik berat layanan bimbingan perkembangan ditekankan pada pencegahan dan pengembangan bukan korektif atau terapeutik, walaupun layanan tersebut juga tidak diabaikan. Pengembangan karena titik sentral sasaran bimbingan perkembangan adalah perkembangan optimal seluruh aspek kepribadian individu dengan strategi/ upaya pokoknya memberikan kemudahan perkembangan melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach karena target populasi layanan perkembangan tidak terbatas pada individu yang bermasalah, tetapi semua individu berkenaan dengan semua aspek kepribadiannya dalam semua konteks kehidupan (masalah, target intervensi, setting, metode, dan lama waktu layanan). ‘Teknik bimbingan yang digunakan meliputi teknik-teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial dan konseling’ (Muro and Kottman, 1995:5). (Nurihsan, 2006:7)

5.      Prinsip-Prinsip Bimbingan
Dalam pelaksanaan kegiatan bimbingan, perlu memperhatikan beberapa prinsip. Menurut Prayitno (Setiawati dan Chudari, 2005:17) pelaksanaan bimbingan berkaitan dengan sasaran layanan, permasalahan individu, program layanan, tujuan dan pelaksanaan.
Prinsip bimbingan yang berkaitan dengan sasaran layanan diantaranya bimbingan harus melayani semua individu tanpa memandang perbedaan yang ada. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor yang dapat menimbulkan masalah pada individu oleh karena itu program bimbingan harus fleksibel dan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi individu. Tujuan dan pelaksanaan layanan diharapkan berdampak positif pada pengemabangan individu agar dapat mandiri.
6.      Azas-Azas Bimbingan
a.       Rahasia, guru harus merahasiakan data dan keterangan yang diterima.
b.      Sukarela, mengehendaki adanya kesukarelaan anak untuk mengikuti kegiatan bimbingan.
c.       Keterbukaan, mengehndaki agar murid-murid terbuka dan tidak berpura-pura dala memberikan keterangan.
d.      Kegiatan, menghendaki murid-murid agar aktif dalam pelayanan bimbingan.
e.       Kemandirian, menunjuk kepada tujuan bimbingan agar murid-murid menjadi mandiri dalam memecahkan masalahnya.
f.       Kini, menghendaki agar masalah yang dihadapi adalah masalah terbaru.
g.      Dinamis, menghendaki agar bimbingan dan konseling terus dilakukan dari waktu ke waktu.
h.      Terpadu, mengehendaki agar kegiatan yang dilakukan oleh guru ataupun pihak lain saling berhubungan.
i.        Harmonis, menghendaki agar layanan dan bimbingan BK tidak bertentangan dengan norma yang ada.
j.        Ahli, menghendaki agar kegiatan BK dilakukan oleh profesional.
k.      Alih tangan kasus, menghendaki agar pihak yang tidak mampu menyelesaikan masalah murid secara tuntas agar mengalihtangankan kasus kepada yang lebih ahli.
l.        Tut wuri handayani, menghendaki layanan BK dapat membangun suasana pengayoman, keteladanan dan dorongan.

 Konseling
1.   Pengertian Konseling
Menurut Shertzer dan Stone  (Nurihsan, 2006:10), “Counseling is an interaction process which facilitates meaningful understanding of self and environment and result in the establisment and/or clarification of goals and values of future behaviour.”
Konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik secara perorangan maupun kelompok agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar dan perencanaan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.
2.      Tujuan Konseling
Dari seluruh pengertian konseling yang ada, Shertzer dan Stone (Nurihsan, 2006:12) mengemukakan tujuan konseling pada umumnya dan di sekolah pada khususnya;
a.       Mangadakan perubahan perilaku pada diri klien sehingga memungkinkan hidupnya lebih prduktif dan memuaskan. Konseling diharapkan dapat membantu siswa menjadi lebih matang dan mengaktualisasikan dirinya dan dapat memanfaatkan potensi di dalam dirinya.
b.      Memelihara dan mencapai kesehatan mental yang positif.  Konseling diharapkan dapat dapat menumbuhkan tanggung jawab dan mandiri.
c.       Penyelesaian masalah. Siswa yang datang kepada konselor biasanya tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri sehingga diharapkan konselor dapat membantu menyelesaikan masalahnya.
d.      Mencapai keefektivan pribadi. Blocher (dalam Nurihsan, 2006:12) mengatakan bahwa pribadi yang efektif adalah pribadi yang sanggup memperhitungkan diri, waktu, dan tenaganya serta bersedia memikul resiko ekonomis, psikologis dan fisik.
e.       Mendorong individu mampu mengambil keputusan yang penting bagi dirinya. Disini jelas bahwa konselor tidak memutuskan masalah yang dihadapi klien, namun tugas konselor hanyalah mengarahkan klien untuk dapat mengambil keputusan dalam menyelesaikan masalah pribadinya.

DAFTAR PUSTAKA
 
Hermawan, Ruswandi. dkk. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar. Bandung: UPI PRESS

Nurihsan, A. J., (2005). Strtegi Layanan Bimbingan & Konseling. Bandung: PT.    Refika Aditama

Nurihsan, A.J., (2006). Bimbingan & Konseling dalam Berbagai Ltar Kehidupan. Bandung: PT. Refika Aditama
Setiwati dan Ima Ni’mah Chudari. (2009). Bimbingan dan Konseling. Bandung: UPI PRESS